Sabtu, 09 Oktober 2010

Potensi Tambang Sinjai


Potensi Pertambangan

Kabupaten Sinjai

  • Batu Bara

Batu Bara merupakan bahan galian fosil atau energi, Batubara dibentuk oleh tumbuh-tumbuhan yang hidup pada lingkungan air tawar, umumnya pada daerah tropis.

Singkapan Batubara di Kabupaten Sinjai tersebar tidak teratur. Batubara Sinjai tergolong jenis Lignit yang terendapkan padalingkungan pasang surut purba. Tersebar di 3 (tiga) tempat yang dikenal dengan : Batubara Bulupoddo, Batu bara Cenrana, Batubara Patukku, dan Batubara Pango.

Kelembaban air :8,25 %,

Nilai Kalori : 5000 Kal/gr

Potensi perkiraan : 318.000 Ton.

- Batubara Bulupoddo

Batubara Bulupoddo di Desa Lammati Riattang Kec. Bulupoddo berupa lapisan tipis ( 1 m ) pada batuan formasi walenae, dengan luas penyebaran kurang lebih 125.000 m2,maka cadangan batubaradiperkirakan sebesar 150.000 ton. Dengan hasil kimia batubara Bulupoddo yakni air lembab 14,20%, kadar abu 62,40%, zat terbang 8,70%, belerang 2,10%, fixed karbon 14,70%, nilai kalori 2929,15 Kal / Gr.

- Batu Bara Cenrana

Terletak di Dusun cenrana Desa Lamatti Riaja Kec. Bulupoddo, luas penyebaran batubara ditaksir 1.500.000 m2, dengan tebal rata-rata 0,15 meter sehingga cadangan diperkirakan 270.000 ton. Hasil analisa kimia batubara Cenrana yakni air bebas 25,40%, Belerang 4,60%, dengan kadar kalori 4,125 kal/Gr.

- Batubara Panggo

Batubara Panggo terletak di Desa Kaloling, Kecamatan Sinjai Timur. Endapan batubara ini termasuk kategori ¨Lignit¨ dengan luas penyebaran kurang lebih 500.000 m2 dengan ketebalan antara 15-20 cm atau cadangan batubara diperkirakan mencapai 210.000 ton.

Analisa kimia, batu belerang Panggo termasuk jenis Lignit dengan kandungan belerang berkisar 1,2-4,6%, maka pemanfaatan batubara ini sangat terbatas, yakni untuk pembakaran dalam industri kecil.

- Batubara Bulupattuku

Endapan batubara Bulu Pattuku, secara administratif terletak di Panreng Kelurahan Lamatti Rilau Kec. Sinjai Utara, luas penyebaran kurang lebih 250.000 m2 terdiri dari 4 (empat) lapisan tipis, dengan ketebalan rata-rata 1,06 m terletak di formasi Walanae dengan cadangan diperkirakan 318.000 ton.

  • Indikasi Emas

Emas yang terindikasi di Kabupaten Sinjai diduga terbentuk dari hasil Alterasi Hidrotermal pada daerah kontak antara batuan penginduksi (Basal dan Andesit) dab batuan yang di intrusi.

Lokasi bahan tambang ini terdapat di wilayah :

1. Wilayah Tompobulu Kec.Bulupoddo

2. Wilayah Katute Kec. Sinjai Borong

3. Wilayah Pulau Sembilan

Volume / Potensi belum dapat diperkirakan.

  • Pasir Besi

Endapan Pasir besi merupakan material hasil erosi batuan gunung berapi (vulkanik) yang bersifat menengah sampai biasa.

Lokasi endapan dimulai dari Biringere, Desa Tongke-tongke hingga dusun Passahakue Desa Pasimarannu Kecamatan Sinjai Timur , kurang lebih sepanjang 3.000 m, lebar pantai 3 meter dan ketebalan 3 mm, maka cadangan diperkirakan endapan pasir besi di daerah sebesar 45,9 ton. Lapisan penutup adalah pasir pantai yang terdiri atas silika dan material organik.

Potensi endapan seluas : 91.63 Ha

Panjang : 3.7 Km

Volume : 291.273.9 Ton

Hasil Analisa Laboratorium

Iron (Fe) : 54,97 %

Iron Trioxide (Fe2o3) : 78,59 %

  • Andesit

Sebagai bahan galian bagunan, Andesit, Trakit dan Basal termasuk bahan galian golongan C. Andesit mempunyai kenampakan fisik berwarna abu-abu sampai hitam. Trakit berwarna abu-abu, kompak, porfiritik sedangkan Basal Mempunyai ciri fisik berwarna abu-abu tua, struktur kompak, tekstru afanitik.

Lokasi bahan galian :

- Andesit

Bahan galian ini banyak dijumpai di Kabupaten Sinjai, namun demikian ada 4 (empat) lokasi yang dominan yaitu : Manubu (Ds. Patongko Kec. Sinjai Tengah), Bulu Banyira (Ds. Saotengah Kec. Sinjai Tengah), Bulu Saukang (Ds. Saotanre Kec. Sinjai Tengah), Bulu Bara (Ds. Barambang Kec. Sinjai Borong).

Dengan Potensi sekitar 827.443.300 M3

- Trakit

Bahan galian ini dijumpai di Bulucinaga (Ds. Lamatti Riaja Kec. Bulupoddo), Batutete (Ds. Duampanuae Kec. Bulupoddo), Bulu Kunyi (Ds. Lamatti Riattang Kec. Bulupoddo), Bulu Paria (Ds. Lamatti Riawang Kec. Bulupoddo), Bulu Maroanging (Ds. Polewali Kec. Sinjai).

Dengan Potensi sekitar 103.412.100 M3

- Basal

Bahan galian ini banyak dijumpai di daerah Hoddi (Ds. Palae Kec. Sinjai Selatan dan terus hingga Labettang dan Topangka Kec. Sinjai Tengah), Kasuarang (Ds. Bonto Salama Kec. Sinjai Barat).

Dengan Potensi sekitar 255.493 M3

  • Opal

Sebagai bahan galian batu mulia (Precious Stone), Opal di kabupaten Sinjai berwarna Transparan hingga kuning kecoklatan, bahan galian ini tidak mempunyai belahan (Cleavege) namun mempunyai pecahan (fracture), melengkung (conchoidal).

Bahan galian ini banyak dijumpai di Kecamatan Sinjai Borong yakni di kampung Bolalangiri Ds. Bonto katute.

Volume penyebaran bahan galian ini sukar diperhitungkan kerena bersifat fragmen dalam massa tanah lempung.

Volume diperkirakan 291.273,9 Ton


  • Granodiorit

Granodiorit merupakan batuan beku pembentukan Kristal mineral relatif sempurna. Batuannya bersifat asam yang mempunyai kekerasan tertinggi dari semua bahan galian.

Bahan galian ini banyak dijumpai dan tersebar di kecamatan Bulupoddo yaitu di Bulu Landari hingga Soppeng di Desa Tompo Bulu. Luas penyebaran dimungkinkan untuk ditambang atau digali sekitar 7.500.000 m2 dan ketebalan rata-rata dihitung 50 m, maka cadangan diperkirakan adalah 375.000.000 m3. Volume penyebaran keseluruhan sebesar 2.563.840.000 M3. Bahan galian ini belum diolah sebagai batu hias dinding maupun lantai.

  • Jasperoid

Jasperoid mempunyai warna khas yakni belang merah putih dengan kekerasan lebih dari 7 Skala Mohs.Bahan galian ini ditemukan di bukit sebelah utara Hulu Solo Kasika di Kecamatan Sinjai Selatan. Sumber daya ini diperhitungkan dengan volume tubuh batuan yang muncul diatas permukaan tanah, dengan luas penyebaran kurang lebih 69.930 m2 dengan volume diperkirakan sebesar 3.496.500 m3.
Bahan galian ini layak dimanfaatkan sebagai batu hias tempel seperti marmer.

  • Kaolin

Kaolin di Kabupaten Sinjai secara fisik berwarna abu-abu hingga putih, bubuk koalin terasa licin jika digosokkan ditangan. Bahan galian ini merupakan meterial setengah kompak dengan lapisan permukaan yang mengalami pelapukan lemah.Bahan galian Koalin ini dijumpai tersingkap dan tersebar di Kec. Sinjai Borong yakni di kampung Bolalangiri Ds. Bonto Katute.

Volume penyebaran bahan galian ini sebesar 16.474.000 m3

  • Belerang

Belerang di Kabupaten Sinjai ditemukan dibagian lereng timur gunung lompobattang, tersingkap pada anak-anak sungai Balanting, Desa Batu Belerang Kec. Sinjai Borong pada ketinggian sekitar 900 m dpl. Endapan belerang ini termasuk berupa hablur pada batuan sekeliling cela, dimana mata air panas keluar (solfatara), tebal endapan belerang ini tipis, berwarna kelabu kekuning-kuningan, kadar belerang rendah, maka endapan belerang tersebut belum tebal.

Sumber daya belerang ini sukar diperhitungkan karena sifatnya hanya menempel pada batuan di danau kawah bukit Borong dengan ketebalan kurang dari 1 mm. Jika dianggap luas permukaan batuan di danau tersebut 300 m2 maka volume belerang diperkirakan 0,3 m3.

Belerang ini belum dikelola untuk keperluan industri rumah tangga dan masyarakat sekitar memanfaatkan air belerang untuk penyembuhan penyakit kulit.

Selain potensi sumber daya mineral yang datanya diperoleh dari laporan penyelidikan Geologi terpadu Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan, juga terdapat sejumlah indikasi potensi sumber daya mineral berupa :

- Potensi Minyak Bumi di Cekungan Teluk Bone (lepas pantai Sinjai)

- Potensi panas bumi (geothermal) di Panggo, desa Kaloling dan Wae PellaE di desa Kampala Kec. Sinjai Timur.

Inventarisasi dan Eksplorasi Mineral Non Logam di Kab. Sinjai dan Bone



INVENTARISASI DAN EVALUASI MINERAL NON LOGAM

DAERAH KABUPATEN SINJAI DAN BONE, PROVINSI SULAWESI SELATAN

Oleh :

Sugeng Priyono; Ganjar Labaik; Sudirman Abdullah; Toto T. Kusumah; Heru Susilo; Jajah.

Sub Dit. Mineral Non Logam

S A R I

Kabupaten Sinjai berada di antara koordinat 5o 19’ 50” - 5o 36’ 47” LS. dan 119o 48’ 30” - 120o 10’ 00” BT. serta Kabupaten Bone koordinat 4o 13’ 00” - 5o 6’ 00” LS. Dan 119o 42’ 00”-120o 30’ 00’ BT.

Stratigrafi Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, dari tua ke muda disusun oleh : Komplek Metamorf (S), Batuan Ultrabasa (Ku) berumur Kapur, Komplek Melang Tektonik Bantimala (m), berumur Jura, Formasi Balangbaru (Kb), Formasi Maranda (Km) yang berumur Kapur, Batuan Gunungapi Terpropilitkan (Tpv), berumur Paleosen, Formasi Malawa (Tem), berumur Eosen, Formasi Salo Kalupang (Teos), Formasi Tonassa (Temt), Anggota Batuan Gunungapi Formasi Salo Kalupang (Teol), Batuan Gunungapi Kalamiseng (Tmkv), Intrusi Granodiorit (gd), Intrusi Basal (b), Intrusi Diorit (di), Intrusi Andesit (a), Trakhit (t) berumur Miosen Bawah, Formasi Camba (Tmc), Anggota Batugamping Formasi Camba (Tmcl), Anggota Batuan Leusit Formasi Camba (Tmca), Anggota Batuan Gunungapi Formasi Camba (Tmcv), Batuan Gunungapi Parepare (Tppv), Batuan Gunungapi Baturape Cindako (Tpbv), Lava Gunungapi Baturape Cindako (Tpbl), Tuf Lapili Gunungapi Baturape Cindako (Tpbv), berumur Pliosen, Formasi Walanae (Tmpw), Anggota Tacipi Formasi Walanae (Tmpt), Batuan Gunungapi Lompobatang (Qlv), Anggota Breksi Batuan Gunungapi Lompobatang (Qlvb), berumur Plistosen, Endapan Undak (Qpt), Batugamping Terumbu (Ql), berumur Plistosen dan batuan termuda adalah Endapan Sungai dan Danau (Qa) serta Endapan Aluvium dan Pantai (Qac), berumur Holosen.

Bahan galian non logam yang cukup prospek dikembangkan antara lain : Di Kabupaten Sinjai :Bahan galian andesit, granodiorit, lempung, trakhit serta pasir dan batu (sirtu), Di Kabupaten Bone :Bahan galian andesit, batugamping, lempung, marmer (batugamping marmeran), trakhit, pasir dan batu (sirtu).


PENDAHULUAN

Inventarisasi dan evaluasi bahan galian mineral non logam di Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, dilakukan terhadap bahan galian mineral non logam baik yang masih berupa potensi sumber daya, ataupun yang sedang dieksploitasi, serta pengumpulan data produksi per tahun yang diperlukan untuk melengkapi data-awal guna pemutakhiran Basis Data dan Neraca Sumber Daya Mineral Nasional, sebagai bahan pertimbangan para pengambil keputusan dalam rangka pengembangan potensi daerah dalam sektor komoditi mineral, agar dapat diakses dengan cepat dan mudah setiap saat, dengan nilai akurasi yang tinggi, serta volume data yang maksimal, sehingga pihak investor dengan cepat dapat mengambil keputusan atau pilihan untuk menanamkan modalnya terutama di Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan.

GEOLOGI BAHAN GALIAN NON LOGAM

Daerah evaluasi termasuk dalam Peta Geologi Bersistem Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai serta Lembar Pangkajene dan Watampone Barat, Skala 1:250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung (Sukamto, Rab. dkk., 1982). Kabupaten Sinjai berada di antara koordinat 5o 19’ 50” - 5o 36’ 47” LS. dan 119o 48’ 30” - 120o 10’ 00” BT. serta Kabupaten Bone koordinat 4o 13’ 00” - 5o 6’ 00” LS. Dan 119o 42’ 00”-120o 30’ 00’ BT.

Stratigrafi Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, dari tua ke muda disusun oleh : Batuan Alas merupakan Komplek Metamorf (S) dan Ultrabasa (Ku) berumur Kapur. Di atas Batuan Alas bersentuhan secara tektonik terdapat Komplek Melang Tektonik Bantimala (m), berumur Jura. Di atas Komplek Melang Tektonik Bantimala (m) bersentuhan secara tektonik terdapat Formasi Balangbaru (Kb) dan Formasi Maranda (Km) yang berumur Kapur. Tidak selaras di atas nya terdapat Batuan Gunungapi Terpropilitkan (Tpv), berumur Paleosen. Tidak selaras di atas Batuan Gunungapi Terpropilitkan (Tpv), terdapat Formasi Malawa (Tem), berumur Eosen. Tidak selaras di atasnya terdapat Formasi Salo Kalupang (Teos), Formasi Tonassa (Temt) dan Anggota Batuan Gunungapi Formasi Salo Kalupang (Teol) yang mana bagian atas dari ketiga formasi ini berhubungan saling menjemari. Tidak selaras di atasnya terdapat Batuan Gunungapi Kalamiseng (Tmkv), Intrusi Granodiorit (gd), Intrusi Basal (b), Intrusi Diorit (di) serta Intrusi Andesit (a) dan Trakhit (t) yang berumur Miosen Bawah. Batuan Intrusi Granodiorit (gd), Basal (b), Diorit (di) serta Andesit (a) dan Trakhit (t), menerobos batuan dari Formasi Tonassa (Temt), Formasi Salo Kalupang (Teos), Formasi Malawa (Tem), Batuan Gunungapi Terpropilitkan (Tpv), Formasi Balangbaru (Kb), Formasi Maranda (Km), Komplek Melange (m), Komplek Malihan Tektonik Bantimala (S) dan Komplek Batuan Ultrabasa Tektonik Bantimala (Ku). Tidak selaras di atas Batuan Gunungapi Kalamiseng (Tmkv), Intrusi Granodiorit (gd), Intrusi Basal (b), Intrusi Diorit (di) serta Intrusi Andesit (a) dan Trakhit (t). terdapat Formasi Camba (Tmc), Anggota Batugamping Formasi Camba (Tmcl), Anggota Batuan Leusit Formasi Camba (Tmca) dan Anggota Batuan Gunungapi Formasi Camba (Tmcv) yang mana ke empat formasi ini berhubungan saling menjemari. Tidak selaras di atasnya terdapat Batuan Gunungapi Parepare (Tppv), Batuan Gunungapi Baturape Cindako (Tpbv), Lava Gunungapi Baturape Cindako (Tpbl) dan Tuf Lapili Gunungapi Baturape Cindako (Tpbv) yang mana ke empat satuan ini berhubungan saling menjemari, yang berumur Pliosen. Tidak selaras di atas Batuan Gunungapi Parepare (Tppv), Batuan Gunungapi Baturape Cindako (Tpbv), Lava Gunungapi Baturape Cindako (Tpbl) dan Tuf Lapili Gunungapi Baturape Cindako (Tpbv), terdapat Formasi Walanae (Tmpw) dan Anggota Tacipi Formasi Walanae (Tmpt), yang mana keduanya berhubungan saling menjemari, berumur Pliosen Atas. Tidak selaras di atas Formasi Walanae (Tmpw) dan Anggota Tacipi Formasi Walanae (Tmpt), terdapat Batuan Gunungapi Lompobatang (Qlv) dan Anggota Breksi Batuan Gunungapi Lompobatang (Qlvb) yang keduanya berhubungan saling menjemari, berumur Plistosen. Tidak selaras di atas Batuan Gunungapi Lompobatang (Qlv) terdapat Endapan Undak (Qpt) dan Batugamping Terumbu (Ql), berumur Plistosen. Tidak selaras di atas Endapan Undak (Qpt) dan Batugamping Terumbu (Ql), terdapat Endapan Sungai dan Danau (Qa) serta Endapan Aluvium dan Pantai (Qac), berumur Holosen yang proses pembentukanya masing berlangsung hingga kini.

Struktur Geologi yang berkembang antara lain berupa perlipatan, pesesaran dan pengkekaran. Sumbu perlipatan membentang berarah relatif utara-selatan dan baratlaut-tenggara, membentuk antiklin dan sinklin melipat batuan sedimen berumur Pra-Tersier (Batuan Malihan Formasi Balangbaru, Formasi Malawa, Formasi Tonassa, Formasi Camba, Formasi Salo Kalupang hingga Formasi Walanae) yang terbentuk pada kala Miosen Akhir-Pliosen secara tektonik regional. Pensesaran berupa sesar naik, normal dan mendatar. Sesar naik hingga sungkup berarah baratlaut- tenggara dan utara-selatan. Batuan berumur Pra-Tersier menyungkup batuan-batuan berumur Tersier. Sesar normal berarah utara-selatan dan baratlaut-tenggara, menyayat batuan berumur Pra-Tersier dan Paleogen (Formasi Balangbaru, Formasi Malawa, Batuan Gunungapi Terpropilitkan, Batuan Gunungapi Formasi Camba dan Formasi Tonassa). Sesar mendatar berarah timur-barat menyayat batuan berumur Tersier (Formasi Tonassa, Tonasa Malawa, Formasi Camba dan Intrusi Trakhit, Granodiorit dan Basal).

Bahan galian non logam yang dapat dikembangkan di Kabupaten Sinjai antara lain :

1. Bahan galian andesit terdapat di daerah-daerah Bulu Congkoe, Desa Bilalang (90.000.000 ton); Kelurahan Bulu Poddo (250.000.000 ton); Bulu Riattang (80.000.000 ton); Desa Duampanuae (An-04-S = 130.000.000 ton); Desa Tompobulu (An-05-S = 55.000.000 ton); Bulu Bonito, Desa Bonito (An-06-S = 140.000.000 ton); Bulu Lembang, Desa Puncak (An-07-S = 80.000.000 ton); Bulu Saukang, Desa Songing (An-08-S = 45.500.000 ton); Bulu Tellu Lempe, Desa Linrung (An-09-S = 40.000.000 ton); Bulu Pepara, Desa Saohiring (An-10-S = 130.000.000 ton); Bulu Banyira, Desa Kompang (An-11-S = 65.000.000 ton); Bulu Banyira, Desa Kompang (An-12-S = 72.000.000 ton) Bulu Tarangkeke, Desa Kanrung (An-13-S = 60.000.000 ton); Desa Samaenre (An-14-S = 16.500.000 ton) dan Bulu Borong (An-15-S = 96.000.000 ton), cukup prospek untuk dikembangkan, umumnya dapat digunakan sebagai bahan fondasi bangunan dan agregat beton, status lahan tanah milik rakyat setempat, tanah adat dan hutan produksi terbatas.

2. Bahan galian basal terdapat di daerah-daerah Bulu Periuk, Desa Logora (Ba-01-S = 9.500.000 ton); analisis kimia SiO2 = 53,71%; Al2O3 = 14,19%; Fe2O3 = 12,30%; CaO = 6,13%; MgO = 4,45%; Na2O = 2,48%; K2O = 1,14%; TiO2 = 0,87%; MnO = 0,21%; P2O5 = 0,10%; SO3 = 0,01%; H2O = 0,35%; HD = 4,10% ; Bulu Palae, Desa Balakia (Ba-02-S = 33.000.000 ton); Bulu Kamasse, Desa Palae (Ba-03-S = 52.000.000 ton); kuat tekan rata-rata 633 Kg/cm2 (SII.0387-80; Azis A, 1993); Bulu Lohe, Desa Samaenre (Ba-04-S = 12.000.000 ton), cukup prospek untuk dikembangkan, umumnya dapat digunakan sebagai bahan fondasi bangunan dan agregat beton, status lahan tanah milik rakyat setempat, tanah adat dan hutan produksi terbatas.

3. Bahan galian granodiorit terdapat di daerah Bulu Bana, Desa Tompobulu (Gd-01-S = 93.500.000 ton) dan Perbukitan Manippi, Desa Turungan Baji (Gd-02-S = 115.000.000 ton), cukup prospek untuk dikembangkan, dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan ornamen, lahan berupa tanah milik, hutan produksi terbatas dan hutan lindung.

4. Bahan galian lempung terdapat di daerah-daerah Desa Karampuang (Cly-01-S = 1.500.000 ton), analisis kimia SiO2 = 49,97%; Al2O3 = 16,38%; Fe2O3 = 6,71%; CaO = 1,80%; MgO = 3,02%; Na2O = 1,21%; K2O = 3,22%; TiO2 = 0,91%; MnO = 0,16%; P2O5 = 0,52%; SO3 = 0,00%; H2O = 8,81%; HD = 15,53%; Desa Bonto Sinala Pasir Putih (Cly-02-S = 4.200.000 ton), analisis kimia SiO2 = 52,75%; Al2O3 = 18,18%; Fe2O3 = 4,29%; CaO = 0,00%; MgO = 1,66%; Na2O = 0,98%; K2O = 3,41%; TiO2 = 0,98%; MnO = 0,02%; P2O5 = 0,26%; SO3 = 1,24%; H2O = 8,74%; HD = 15,46%; Tanaeja, Desa Saotanre Baru (Cly-03-S = 1.800.000 ton), analisis kimia SiO2 = 51,50%; Al2O3 = 23,92%; Fe2O3 = 9,21%; CaO = 0,00%; MgO = 0,00%; Na2O = 0,24%; K2O = 0,82%; TiO2 = 1,46%; MnO = 0,07%; P2O5 = 0,18%; SO3 = 0,03%; H2O = 1,76%; HD = 11,58%; Desa (Cly-04-S = 9.500.000 ton); Desa Kampala. (Cly-05-S = 2.000.000 ton); Kelurahan Biringere (Cly-06-S = 1.200.000 ton) ; Desa Lamatti Riattang. (Cly-07-S = 5.400.000 ton); sifat keramik : Susut Kering 5,51%; Air Pembentuk 32,6%; Suhu Bakar 1.200OC; Susut Bakar 6,41%; Susut Jumlah 11,76%; Warna Krem Muda; Kuat Lentur 231,30 Kg/cm2; Peresapan 9,16; Karakteristik baik untuk badan keramik berwarna, sangat prospek untuk dikembangkan, status lahan tanah milik rakyat setempat

5. Bahan galian sirtu terdapat di daerah-daerah Desa Mangassa (Gra-01-S = 50.000.000 ton); Desa Tompobulu (Gra-02-S = 230.000 ton); Desa Logora (Gra-03-S = 3.450.000 ton); Desa Bikeru (Gra-04-S = 1.800.000 ton); Desa Labettang (Gra-05-S = 45.000.000 ton); Desa Lembang Lohe Biroro (Gra-06-S 2.250.000 ton); Desa Bonto (Gra-07-S = 1.150.000 ton) ; Desa Kanrung (Gra-08-S = 650.000 ton); Desa Bongki (Gra-09-S = 85.000.000 ton); Desa Batumimbalo (Gra-10-S = 2.600.000 ton); Kelurahan Biringere (Gra-11-S = 800.000 ton), sangat prospek untuk dikembangkan, cukup baik untuk bahan bangunan dan agregat beton.

6. Bahan galian trakhit terdapat di daerah-daerah perbukitan Desa Kassibuleng (Tr-01-S = 16.000.000 ton); Bulu Bonto Tinggi, Desa Palangka (Tr-02-S = 43.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 68,99%; Al2O3 = 17,28%; Fe2O3 = 0,94%; CaO = 2,82%; MgO = 0,23%; Na2O = 3,39%; K2O = 2,93%; TiO2 = 0,26%; MnO = 0,00%; P2O5 = 0,01%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,58%; HD = 2,58%; dan Desa Pattongko (Tr-03-S = 20.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 70,17%; Al2O3 = 16,32%; Fe2O3 = 0,77%; CaO = 1,86%; MgO = 0,62%; Na2O = 3,48%; K2O = 3,06%; TiO2 = 0,26%; MnO = 0,01%; P2O5 = 0,06%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,15%; HD = 1,97%; sangat prospek untuk dikembangkan, baik untuk campuran bahan baku badan keramik putih, status lahan hutan produksi terbatas dan tanah adat.

Bahan galian non logam yang dapat dikembangkan di Kabupaten Bone antara lain :

1. Bahan galian andesit terdapat di daerah-daerah perbukitan Desa Abumpungeng (An-01-B = 26.000.000 ton); Desa Awangtangka (An-02-B = 45.500.000 ton); Desa Tanpa' Kiling (An-03-B = 55.000.000 ton); Desa Nusa (An-04-B = 36.000.000 ton); Kelurahan Tanabatue (An-05-B = 11.000.000 ton); Desa Ujung Salang Keto (An-06-B = 12.900.000 ton); Desa Ujung Salang Keto (An-07-B = 125.000.000 ton); dan Desa Mario (An-08-B = 33.000.000 ton), sangat prospek untuk dikembangkan, baik digunakan sebagai bahan fondasi konstruksi menengah hingga berat, status lahan tanah milik, tanah adat dan hutan produksi terbatas.

2. Bahan galian basal terdapat di Bulu Bulue, Desa Pattiongi Talabangi (Ba-09-B = 50.000.000 ton), dapat digunakan sebagai bahan fondasi dan batuan ornamen, prospek untuk dikembangkan.

3. Bahan galian batugamping terdapat di daerah-daerah perbukitan Desa Liliriawang (Ls-01-B = 31.000.000 ton); Desa Mattaro Pulli (Ls-02-B = 52.000.000 ton); Desa Canni Sirenreng (Ls-03-B = 133.600.000 ton); Desa Lampoko Wollangi (Ls-04-B = 27.000.000 ton); Desa Langi Kahu (Ls-05-B = 400.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 2,57%; Al2O3 = 0,72%; Fe2O3 = 0,38%; CaO = 51,71%; MgO = 1,17%; Na2O = 0,01%; K2O = 0,11%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,02%; P2O5 = 0,15%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,48 ; HD = 42,32%; Desa Tempee (Ls-06-B = 32.000.000 ton); Desa Pasempe (Ls-07-B = 81.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 1,65%; Al2O3 = 0,65%; Fe2O3 = 0,32%; CaO = 52,82%; MgO = 0,88%; Na2O = 0,01%; K2O = 0,04%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,03%; P2O5 = 0,16%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,39; HD = 42,74%; Bulu Paleonro Tanabatue (Ls-08-B = 12.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 0,18%; Al2O3 = 0,14%; Fe2O3 = 0,04%; CaO = 54,38%; MgO = 0,68%; Na2O = 0,01%; K2O = 0,00%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,01%; P2O5 = 0,05%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,18; HD = 43,49%; Desa Tanatenga Usa (Ls-09-B = 55.000.000 ton); Desa Mulamenre Sapewalie (Ls-10-B), Kecamatan Taccipi, sumber daya hipotetik 16.000.000 ton, analisis kimia SiO2 = 0,29%; Al2O3 = 0,14%; Fe2O3 = 0,08%; CaO = 54,38%; MgO = 0,68%; Na2O = 0,00%; K2O = 0,01%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,01%; P2O5 = 0,07%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,13; HD = 43,34%; Desa Cinnong Ulaweng (Ls-11-B = 16.500.000 ton), analisis kimia SiO2 = 0,67%; Al2O3 = 0,11%; Fe2O3 = 0,05%; CaO = 54,04%; MgO = 0,88%; Na2O = 0,01%; K2O = 0,02%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,01%; P2O5 = 0,02%; SO3 = 0,01%; H2O = 0,14; HD = 43,30%; Desa Waemputtaeng (Ls-12-B = 180.000.000 ton); Desa Pallette (Ls-13-B = 165.000.000 ton); Hatcheri, Desa Pallette (Ls-14-B = 115.000.000 ton); Desa Mattiro Walie (Ls-15-B = 3.500.000 ton); Desa Lattekko Otting (Ls-16-B = 81.500.000 ton); dan Desa Manurunge Ningo (Ls-17-B = 200.000.000 ton), sangat prospek untuk dikembangkan, dapat digunakan untuk bahan baku semen portland, fondasi dan ornamen, status lahan hutan produksi terbatas, hutan lindung dan tanah adat.

4. Bahan galian dolomit terdapat di daerah-daerah perbukitan Desa Pattimpa Ajangpulu (Do-01-B = 20.000.000 ton), pengujian kimia SiO2 = 0,18%; Al2O3 = 0,08%; Fe2O3 = 0,06%; CaO = 33,71%; MgO = 18,92%; Na2O = 0,02%; K2O = 0,00%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,01%; P2O5 = 0,04%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,24; HD = 45,94; Gatareng, Desa Patimpeng (Do-02-B = 7.700.000 ton), pengujian kimia SiO2 = 0,50%; Al2O3 = 0,31%; Fe2O3 = 0,14%; CaO = 33,05%; MgO = 18,30%; Na2O = 0,02%; K2O = 0,02%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,01%; P2O5 = 0,11%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,23; HD = 46,00%, cukup prospek untuk dikembangkan, cukup baik untuk bahan baku industri kimia, pupuk dan obat-obatan.

5. Bahan galian granodiorit terdapat di daerah-daerah Bulu Biru, Desa Kahu Matajang (Gr-01-B = 45.000.000 ton); Salobenteng, Desa Wattang Cani (Gd-01-B = 36.000.000 ton); , dapat digunakan sebagai bahan fondasi bangunan dan ornamen.dan Bulu Aluh Pangeh, Desa Mattiro Walie (Gd-02-B = 126.500.000 ton), sangat propek untuk dikembangkan, dapat digunakan sebagai bahan baku batu berdimensi, batuukir, bahan fondasi dan ornamen.

6. Bahan galian jasper Bulu Masale, Desa Biccoing Bacu (Jas-01-B = 6.000.000 ton), hitam legam, mikrokristalin, baik untuk batuan ornamen, cukup prospek untuk dikembangkan.

7. Bahan galian lempung Pedataran Desa Manciri (Cly-01-B 1.800.000 ton), analisis kimia SiO2 = 58,06%; Al2O3 = 16,01%; Fe2O3 = 16,86%; CaO = 0,42%; MgO = 1,64%; Na2O = 0,76%; K2O = 2,56%; TiO2 = 0,97%; MnO = 0,10%; P2O5 = 0,06%; SO3 = 0,02%; H2O = 7,31%; HD = 12,67%; Desa Lebbae (Cly-02-B = 1.100.000 ton), analisis kimia SiO2 = 52,58%; Al2O3 = 15,24%; Fe2O3 = 16,44%; CaO = 0,00%; MgO = 0,34%; Na2O = 0,25%; K2O = 0,03%; TiO2 = 1,53%; MnO = 0,49%; P2O5 = 0,07%; SO3 = 0,01%; H2O = 4,53%; HD = 12,62%; Desa Salewangeng (1.500.000 ton); Desa Leppangeng (1.650.000 ton); Desa Sampulili (320.000 ton); Desa Langi Bulusirua (320.000 ton); Desa Abumpungeng (9.700.000 ton), pengujian sifat keramik : Susut Kering 10,28%; Air Pembentuk 37,5%; Suhu Bakar 1.200OC; Susut Bakar 3,72%; Susut Jumlah 13,83%; Warna Coklat Pucat; Kuat Lentur 244,93 Kg/cm2; Peresapan 11,12; Karakteristik baik untuk badan keramik berwarna dan krem, sangat prospek untuk dikembangkan, status lahan tanah milik.

8. Bahan galian marmer (batugamping marmeran) terdapat di daerah daerah Bulu Kebunge, Desa Wattang Cani (Ma-01-B), (800.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 0,37%; Al2O3 = 0,04%; Fe2O3 = 0,04%; CaO = 54,04%; MgO = 1,17%; Na2O = 0,00%; K2O = 0,01%; TiO2 = 0,03%; MnO = 0,02%; P2O5 = 0,03%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,12; HD = 43,29%; dan Bulu Diompoe, Desa Wattang Cani (Ma-02-B), Kecamatan Bontocani (900.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 1,13%; Al2O3 = 0,24%; Fe2O3 = 0,13%; CaO = 53,17%; MgO = 0,58%; Na2O = 0,01%; K2O = 0,02%; TiO2 = 0,00%; MnO = 0,02%; P2O5 = 0,05%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,13; HD = 42,80% ; dapat digunakan sebagai marmer, batupoles dan ornamen.

9. Bahan galian pasir terdapat di daerah-daerah Desa Selli (1.150.000 ton), Sungai Labembe (7.200.000 ton); Desa Gona (450.000 ton); Desa Nusa (11.000.000 ton); Desa Kepe (10.000.000 ton); Mattiro Walie (690.000 ton); dan Desa Tanabatue (430.000 ton), cukup prospek untuk dikembangkan, baik digunakan untuk pasir beton dan bahan bangunan.

10. Bahan galian trakhit terdapat di daerah-daerah perbukitan Desa Buarong (9.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 60,76%; Al2O3 = 17,28%; Fe2O3 = 4,34%; CaO = 4,07%; MgO = 1,31%; Na2O = 2,63%; K2O = 5,36%; TiO2 = 0,45%; MnO = 0,11%; P2O5 = 0,15%; SO3 = 0,01%; H2O = 0,91; HD = 2,60%; Desa Ulubalang (17.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 42,74%; Al2O3 = 11,04%; Fe2O3 = 6,30%; CaO = 13,21%; MgO = 7,91%; Na2O = 1,36%; K2O = 2,52%; TiO2 = 0,81%; MnO = 0,16%; P2O5 = 0,58%; SO3 = 0,01%; H2O = 4,66; HD = 12,91%; Desa Patimpeng (2.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 69,22%; Al2O3 = 16,32%; Fe2O3 = 0,94%; CaO = 2,00%; MgO = 1,04%; Na2O = 4,19%; K2O = 2,94%; TiO2 = 0,28%; MnO = 0,03%; P2O5 = 0,07%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,21; HD = 2,08%; Desa Gatareng (5.400.000 ton); Desa Gareccing (20.000.000 ton), Desa Bincoing Bacu (130.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 69,99%; Al2O3 = 17,01%; Fe2O3 = 0,85%; CaO = 2,20%; MgO = 0,28%; Na2O = 2,66%; K2O = 3,01%; TiO2 = 0,28%; MnO = 0,02%; P2O5 = 0,06%; SO3 = 0,00%; H2O = 1,09; HD = 2,93%; Desa Bonepute Bacu (250.000.000 ton), analisis kimia SiO2 = 69,28%; Al2O3 = 17,23%; Fe2O3 = 0,81%; CaO = 2,02%; MgO = 0,62%; Na2O = 3,26%; K2O = 2,85%; TiO2 = 0,26%; MnO = 0,02%; P2O5 = 0,07%; SO3 = 0,00%; H2O = 0,20; HD = 2,56%; sangat prospek untuk dikembangkan, cukup baik digunakan untuk campuran bahan baku badan keramik putih dan krem, status lahan hutan produksi terbatas, tanah milik dan tanah adat.